77flu singapura

Setelah sekian lama absen, muncul lagi ah dengan artikel baru. Kali ini aku mau buat artikel tentang sebuah pentakit yang bernama Flu Singapore. Wah penyakit apaan ya ini????? Kok sampe Flue di import dari Singapore 🙂

Hehehehehe itu hanyalah sebuah nama penyakit. Kebetulan baru kali ini saya menghadapi penyakit jenis ini. Kisahnya dimulai pas tgl 31 Desember 2012. Anak kami yang pertama : Nia, sudah 3 hari tidak mau makan tapi susu masih mau sedikit2. Tapi semenjak kemarinnya dia bener-bener puasa dari makan dan minum plus satu lagi : puasa bicara. Kami sebagai orang tua pun bingung jadinya. Saya lalu mencoba untuk melihat di dalam mulutnya. Astaga, ternyata banyak sekali terdapat sariawan kecil-kecil yang ada hampir di semua langit dan guzinya. Saya menarik kesimpulan inilah penyebabnya. Tapi saking paniknya kami pun kedokter dan oleh dokter anak kami diponis mengidap Flu Singapore. Akhirnya dia opname selama 2 hari di Rumha Sakit. Berselang seminggu adiknya yg terkena penyakit ini tapi syukur tidak sampai opname.

Jadi penyakit apakah ini? Flu Singapore umumnya menyerang anak-anak. Gejalanya adalah dinding mulut yang dipenuhi oleh sariawan dan bintik-bintik merah di telapak kaki dan tangannya. Menurut keterangan dokter, penyakit ini sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya dan cenderung tidak berbahaya. Yang membuat penyakit ini memerlukan penanganan khusus adalah dampak yang ditimbulkannya yaitu : anak tidak mau makan dan minum. Kl saja anak mau tetap minum (ada cairan yang masuk ke dalam tubuhya) sebenarnya tidak perlu sampe opname. Penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya dalam selang waktu 7 hari. Tapi kalo anak anda sampai tidak mau makan bahkan minum segeralah bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan infus. Intinya berusahalah agar ada cairan yg masuk ke dalam tubuhnya walau dengan sedikit di paksa. Kita aja dewasa kalo sariawan satu saja perihnya bukan main apalagi anak kecil yg begitu banyak terdapat sariawan di mulutnya.

Satu lagi penyakit ini penyebabnya adalah virus jadi sangat beresiko menular ke anak-anak yang lainnya. Jadi segera ungsikan anak yg masih sehat untuk sementara waktu. Anak yang sakit ini jangan dulu diberi bersekolah. Kalo sampai teman-temannya ketularan dan anda yang disalahkan kan ndak enak 🙂

Ok segitu aja dulu. Yang sabar ya bapak/ibu jika anak anda mengalami penyakit ini. Semoga bisa menjadi masukan dan bahan pertimbangan bagi yg sedang mengalami masalah ini. Pakai artikel ini hanya sebagai pertimbangan saja. Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi kepada dokter anak anda untuk lebih lanjutnya.
INGAT!!!!!! PENYAKIT INI TELAH MERENGUT NYAWA BEBERAPA ANAK. Jadi anda sebagai orang tua harus bertindak lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Semoga bermanfaat, terima kasih.

Iklan

Setiap orang tua pasti merasa bingung jika anaknya menderita demam. Apalagi disaat ini penyakit demam berdarah siap mengintai siapa saja tanpa memandang umur. Namun pada umumnya para orangtua yang baru memiliki balita alias ‘orang tua baru’ sangat teramat khawatir dengan kesehatan anaknya. Baru demam sedikit sudah langsung ke dokter anak atau langsung cek darah. Untuk jaga-jaga sih boleh saja ya, tapi kalo terlalu phobia gitu ya susah juga jadinya.

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya pada saat anak saya suatu saat yang lalu menderita demam. Sebagai orang tua baru kami juga terlalu khawatir terhadap kesehatan anak kami. Suatu ketika Nia anak kami mengalami demam yang tidak menentu. Siang hari demamnya turun karena diberi obat penurun panas namun malam hari kembali naik. Selama hampir 3 hari panasnya tetap saja naik turun terus walaupun kami sudah rutin memberikannya obat penurun panas sesuai dosis yang dianjurkan. Sampai akhirnya menginjak pada malam ke 4 tepat jam 2 malam anak kami bangun dari tidurnya. Pada saat saya cek suhu tubuhnya ternyata thermometer menunjukkan angka 39 derajat C. Sontak kami pun panik dan langsung membawa Nia ke UGD. Di UGD dokter jaga juga tidak berbuat terlalu banyak. Nia lalu diberi obat penurun panas yang dimasukkan lewat anusnya. Setelah itu berangsung-angsur panasnya mau turun kembali. Keringat sudah mulai keluar dari tubuhnya walaupun badannya masih terasa hangat.

Keesokan harinya badannya sudah tidak sepanas kemarin. Tapi itulah anehnya sakit pada anak kami. Walaupun menderita demam Nia tetap dapat aktif beraktifitas bermain seperti anak normal. Karena khawatir kami lalu membawa Nia ke laboratorium untuk melakukan tes darah, jaga-jaga jika nanti dia mengalami penyakit demam berdarah. Kami sangat bersyukur karena hasil lab ternyata menyatakan negatif, anak kami tidak terkena penyakit demam berdarah.

Malamnya Nia demam kembali dan akhirnya kami pun ke rumah sakit untuk merawat inap anak kami. Selama 3 hari di rumah sakit dokter anak yang menangani Nia sudah memberikan Nia obat penurun panas tapi demamnya tetap juga naik turun. Sampai pada hari ke 4 dokter anak tersebut merujuk anak saya pada dokter spesialis THT. Dokter THT tersebut kemudian menyatakan bahwa di dalam telinga anak saya terdapat bisul dan harus dipecahkan dengan cara ditusuk. Kami menyetujuinya dan syukur semenjak ditusuk tersebut demamnya Nia berangsur-angsur turun. Esok paginya suhu badannya sudah normal dan kami diperbolehkan membawanya pulang.

Pulang dari rumah sakit saya sudah dapat bernapas lega. Nia sudah dapat kembali bermain dengan riangnya. Namun apa yang terjadi? Kegembiraan tersebut hanya dapat bertahan selama sekitar 1 minggu. Nia kembali mengalami demam tinggi. Saat itu saya stress. Saya lalu termenung di depan anak saya berpikir apa yang sedang terjadi…. Di tengah lamunan saya, tiba-tiba saya teringat kembali kejadian di rumah sakit. Jangan-jangan terdapat sesuatu di telinga anak saya. Tanpa basa-basi saya dan istri lalu membawa Nia ke dokter spesialis THT yang menurut teman saya bagus di dalam menangani pasiennya. Sampai ditempat praktek dokter tersebut telinga Nia diperiksa dan ternyata terdapat 2 buah bisul di telinga kanan dan kirinya yang sudah memasuki fase radang… Saya sempat berpikir pada saat itu, wah jangan-jangan dokter THT yang menusuk anak saya di rumah sakit tidak bekerja secara sempurna. Selepas ditusuk kembali oleh dokter THT tersebut nanah dan darah muncul dari kedua telinga anak saya. Kami pun diwanti untuk tidak terlalu khawatir karena itu memang kejadian yang wajar. Nanti juga berhenti kata dokter tersebut. Syukur kehadapan Tuhan sepulang dari dokter THT tersebut anak saya sembuh dari demamnya dan tidak kumat lagi.

Ada satu perkataan dari dokter THT tersebut yang selalu terngiang di kepala saya sampai saat ini. “Kalau dari awal di bawa ke tempat praktek saya kan anak saudara ndak bakalan sampai harus opname”, kata dokter itu sambil bercanda. Yah begitulah, opname 3 hari ngabisin 3-4 juta rupiah seperti percuma saja ketika mendengar perkataan dokter tersebut. Ke dokter THT saya ndak sampai menghabiskan 200 ribu rupiah termasuk obat.

Untuk itu ada beberapa acuan yang sampai saat ini saya pakai acuan ketika anak saya mengalami penyakit panas:

  1. Berikan terlebih dahulu obat penurun panas sesuai dosis dan secara teratur.
  2. Jika setelah 3 hari tidak terjadi perubahan dianjurkan mengecek darah anak, jaga-jaga jika nanti sampai terkena penyakit demam berdarah. Semakin dini kita waspada semakin cepat penyakit ini bisa disembukan (jika positif terkena).
  3. Jika hasil lab menyatakan negatif, cobalah membawa anak anda ke dokter spesialis THT, siapa tahu terdapat bisul di telinganya.
  4. Jika tidak, mending bawa ke rumah sakit untuk diobservasi.

Saya bukanlah dokter dan saya tidak memaksa atau menganjurkan anda untuk melakukan seperti apa yang saya lakukan. Tetapi saya hanya sedikit sharing pengalaman saya syukur-syukur itu bisa membantu anda. Kembali lagi kepada anda yang memutuskan dan berperan sebagai orang tua 🙂

Salam……………………………

Kami adalah pasangan baru yang memutuskan untuk menikah sekitar 3,5 tahun yang lalu. Dan syukur kami sekarang telah memiliki seorang anak perempuan berumur 2,5 tahun. Sebagai sepasang orang tua baru kami dituntut untuk mengerti segala perkembangan yang terjadi pada anak kami.

Terdapat satu masalah yang bisa dikatakan amat sangat mengganggu perhatian kami di dalam tumbuh kembang anak perempuan kami. Masalah itu adalah susahnya buang air besar (BAB) puteri kami. Permasalahan ini muncul pertama kali pada saat anak kami diberi asupan makanan padat pada umur 6 bulan. Anda mungkin bisa membayangkan, bagaimana seorang bayi berumur 6 bulan berusaha mengeluarkan pupnya yang besarnya melebihi lubang anusnya. Betapa paniknya kami menghadapi kejadian tersebut. Si kecil menangis keras sekali menahan sakitnya. Kami pun sebagai orang tua bingung dan panik tidak tahu harus berbuat apa. Tapi untungnya kejadian tersebut hanya berlangsung sekitar 10 menit dan akhirnya puteri kami berhasil mengeluarkan pupnya. Keringat bercucuran di badannya. Darah segar keluar dari lubang anusnya. Mungkin karena besarnya ukuran pup yang ia keluarkan. Kami sendiri heran mengapa seorang bayi berumur 6 bulan bisa mengeluarkan pup dengan ukuran yang begitu besar.

Selepas kejadian tersebut saya melarang istri untuk memberi makanan padat kepada anak kami. Akhirnya anak kami diberi asupan ASI saja. Syukur BABnya bisa kembali normal. Namun menginjak usia 7 bulan terjadi perubahan yang sangat terlihat pada bayi kami. Berat badannya menurun dan terlihat agak kurus. Kalau dilihat dari umurnya seharusnya dia telah diberi makanan padat.  Dan akhirnya karena tidak tega melihat kurusnya anak kami, saya memutuskan untuk mencoba kembali memberi bayi kami makanan padat. Dan bisa ditebak selanjutnya yang terjadi, sulitnya BAB anak kami kembali terjadi. Lalu saya berpikir, apa mungkin penyebabnya ASI ibunya yang tidak baik? Saya lalu mencoba untuk menyetop pemberian ASI kepada bayi kami dan mengalihkannya ke susu kemasan dengan tetap memberi makanan padat kepadanya. Tidak terjadi perubahan, bayi kami masih juga susah BAB.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk tetap memberikan makanan padat kepada bayi kami, karena memang seharusnya seumuran dia sudah mendapatkan makanan padat walau berupa bubur. Setiap hari kami selalu resah ketika melihat anak kami berusaha untuk mengeluarkan pupnya. Dengan menangis, berteriak dan peluh bercucuran ia berusaha sampai akhirnya pupnya keluar dan disertai dengan darah segar. Kami lalu pergi ke dokter anak untuk mengkonsultasikan masalah ini. Dokter memberikan obat namun tidak begitu berpengaruh. Penyakit susah BABnya tetap saja terjadi. Sudah beberapa dokter anak kami kunjungi namun tidak satupun bisa memberikan jalan keluar terhadap masalah bayi kami ini.

Ditengah keputusasaan ada kerabat yang menyarankan untuk membeli pencahar untuk anak dengan merek durcolax yang dimasukkan ke dalam anusnya. Kami lalu mencobanya dan ternyata berhasil. Pada saat si bayi terlihat akan BAB, kami dengan segera memasukkan pencahar tersebut ke dalam anusnya. Proses BABnya dapat terjadi dengan cepat. Dia hanya menangis sebentar dan tidak lama kemudian Pupnya yang mungkin lebih besar dari pupnya orang dewasa keluar. Kami sangat senang satu masalah bisa terselesaikan. Namun ditengah kegembiraan kami saya mulai berpikir kembali. Apa nanti anak kami akan selalu ketergantungan obat pencahar setiap ia akan BAB? Apa hal ini akan terjadi untuk selanjutnya? Apa tidak ada efek samping terhadap anak jika diberikan obat pencahar secara terus menerus? Semua pertanyaan tersebut terus bergejolak dalam otak saya dan saya berpikir saya harus mendapatkan jalan keluar yang lain.

Saya mulai mencari di Internet terutama pada paman GOOGLE 🙂 Berbagai situs dan blog saya buka yang saya pikir bisa memberikan solusi terhadap permasalahan anak saya. Dari hasil tersebut berikut adalah beberapa hal yang mungkin bisa dicoba jika anak mengalami susah BAB:

  • Ada situs yang menganjurkan untuk mengurangi takaran susu yang diberikan. Saya lalu coba untuk mengurangi jumlah takaran susu. Untuk botol 120mL yang seharusnya 4 sendok takar saya kurangi menjadi 2 sendok takar. Namun perlakuan ini kurang begitu menunjukkan hasil.
  • Ada situs yang menyarankan mencampur nasi yang akan dibuat dengan agar-agar. Ini bertujuan agar si kecil mendapatkan asupan serat yang cukup. Saya coba dan untuk beberapa kali pertama BABnya dapat berjalan dengan lancar. Namun setelah beberapa kali kesulitan untuk BAB kembali terjadi. Entah dimana permasalahannya saya kurang tahu.
  • Ada blog yang menyarankan untuk memberikan obat yang namanya clorofil yang katanya berasal dari zat hijau daun. Namun dari comment-comment yang masuk ada yang mengatakan berhasil namun ada yang mengatakan tidak. Saya sendiri belum sempat mencoba cara ini karena susah dan mahalnya clorofil tersebut.
  • Ada blog yang menyarankan untuk mencampur susu yang diberikan kepada bayi dengan tepung kanji. Dari comment yang masuk sepertinya meyakinkan lalu saya mencobanya. Perbandingan yang saya lakukan adalah 2 sendok takar susu plus 1 sendok takar tepung kanji untuk ukuran 120ml. Dan seperti kejadian yang sudah-sudah untuk beberapa kali pertama BAB semua berjalan lancar namun kesulitan untuk BAB pada akhirnya kembali terjadi.

Setelah mencoba berbagai macam hal kami merasa frustasi dan putus asa. Tidak satupun usaha yang kami lakukan berhasil membuat anak kami lancar untuk melakukan BAB. Sampai menginjak usia 1,5 tahun kami lalu berusaha mencari pengobatan alternatif berobat ke semacam sensie. Disana setelah didiagnosa sensie tersebut mengatakan bahwa posisi usus anak saya melilit di dalam yang menyebabkan makanan tidak dapat berjalan secara normal ke usus besar. “Kalau ini dibawa ke dokter paling disuruh operasi oleh dokternya”, kata senssei tersebut.  Mendengar penjelasan tersebut sontak saja kami menjadi panik. Tapi dia mengatakan jangan terlalu kawatir, anaknya juga dulu mengalami hal yang serupa dan akhirnya sembuh setelah ia kasi obat ramuannya. Kami pun sedang mendengar hal tersebut. Lalu secara rutin setiap minggu kami pergi ke sensei tersebut untuk memijat perut anak saya agar posisi ususnya yang melilit dapat kembali ke posisinya semula. Selain dengan terapi pijat kami juga diberikan obat herbal. Prosesi ini kami lakukan hampir sekitar 3 bulan namun tetap juga tidak ada perubahan yang berarti pada anak kami. Setiap ia akan BAB dia akan mencari pojok rumah untuk sembunyi sambil menangis, merintih berusaha untuk mengeluarkan pupnya.


Secercah Cahaya Harapan

Saya sudah sangat teramat putus asa. Semua hal sudah kami coba. Malah dokter anak yang terakhir kami kunjungi merujuk anak kami ke dokter spesialis bedah perut. Pikiran saya sudah sangat kacau. Namun ditengah semua masalah tersebut melalui Facebook seorang teman saya menyarankan saya untuk memberikan suplemen dengan nama Vegeblend. Karena berharap untuk mendapatkan perubahan maka saya tetap mencobanya. Awalnya saya campur ke dalam susunya setiap sore hari. Namun karena dicampur Vegeblend susu tersebut berubah warna menjadi hijau dan anak saya menolak untuk meminumnya. Karena ia menolak terpaksa saya akhirnya paksa dia meminumnya langsung dengan sebelumnya saya campur dengan sesendok air putih. Hampir habis Vegeblend satu botol penyakit susah BAB tersebut tetap saja terjadi.

Ditengah keputusasaan, saya churhat kepada teman yang menganjurkan untuk mengkonsumsi Vegeblend tersebut. Lalu dia menganjurkan untuk mengkonsumsi Fruitblend 18Jr yang notabene sebenarnya satu paket dengan Vegeblend yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Fruitblend di pagi hari dan Vegeblend di sore hari. Tapi saya berpikir Vegeblend aja tidak berpengaruh apalagi Fruitblend 18Jr. Ada hampir 2 bulan lamanya setelah churhat tersebut berlalu dan anak saya tetap saja mengalami susah BAB. Dan suatu ketika saya teringat kembali apa yang dianjurkan oleh teman saya tersebut. Saya mulai mencoba untuk memberikan Fruitblend 18Jr kepada anak saya. Dan apa yang terjadi?? Betapa bahagianya saya, keesokan harinya anak saya pup dengan lancar. Dan sampai sekarang sampai ia berusia 2,5 tahun BABnya telah berjalan dengan normal.

Terima kasih saya ucapkan kepada teman yang telah menyarankan suplemen ini dan terima kasih saya ucapkan kepada Fruitblend 18Jr. Semoga pengalaman saya ini bisa memberikan manfaat bagi ibu-ibu atau pun bapak-bapak yang mengalami permasalahan yang serupa.

Salam……