Punya anak kecil???
Tapi anda dan pasangan keduanya sibuk bekerja mencari nafkah. Hidup mandiri sudah pisah dengan orang tua. Trus, siapa yang menjaga si Kecil??????

Mungkin anda senasib dengan saya. Ditengah gencarnya arus globalisasi ini kita dituntut untuk bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil kita. Kala dulu baru menikah kita cuma hidup berdua sih belum ada masalah. Nah pada saat munculnya malaikat kecil kita ke dunia baru kitamulai berpikir keras mengenai menghadapi masalah kehidupan ini.

Sekedar berbagi pengalaman, saya dan istri memutuskan hidup pisah dengan kedua orang tua saya dan mengontrak sebuah rumah pada saat si kecil baru menginjak usia 6 bulan. Pada saat kami pindah untung ada seorang PRT yg sangat baik bersama kami yang saya dapatkan dari mertua saya. Yah karena tu PRT (sebut aja : bibi) sudah lumayan lama diajak sama mertua saya ya akhirnya saya percayakan saja urusan rumah tangga kepada bibi termasuk mengasuh Nia anak perempuan kami yang saat itu masih berusia 6 bulan. Sungguh saya akui dengan adanya bibi masalah pekerjaan dan rumah tangga saya sangat teramat terbantu sekali.

Nah masalah timbul pada saat si bibi ini memutuskan untuk pulang ke kampungnya karena menderita sakit yg tak kunjung sembuh. Di kota saya ini mencari seorang PRT ibaratnya sama susahnya dengan mencari seorang Manajer di perusahaan. Susahnya minta ampun. Kata pemerintah pengangguran di Indonesia ini angkanya cukup tinggi, tapi ya kok mencari seorang PRT aja susahnya minta ampun. Setelah nitip sana nitip sini kepada teman, sahabat dan saudara untuk mencarikan seorang PRT tak terasa sudah hampir 1 bulan kami hidup tanpa bantuan seorang PRT. Rumah sudah seperti kapal pecah. Kerjaan istri sudah amburadul karena harus mengurus si kecil di rumah.

Di saat seperti itu kami lalu memutuskan untuk mencari PRT di sebuah yayasan. Yang kami cari adalah semi babysister, artinya ngasuh anak dia mau tapi mengerjakan urusan rumah tangga juga ia mau. Setelah memilih milih akhirnya kami mendapatkan seorang PRT yang kami rasa cocok dengan kebutuhan kami. Dalam perjalanannya PRT ini (sebut saja: sinta) bekerja sangat rajin dan anak kami pun mau dekat dengan sinta ini. Saya pun menjadi lega karena satu masalah sudah bisa teratasi. Sinta sudah kami perlakukan layaknya saudara sendiri. Kami servis betul dia supaya dia mau betah bekerja dengan kami.

Tak terasa sudah hampir 3 bulan kami mengajak sinta bekerja di rumah kami. Secara keseluruhan kami sangat puas dengan hasil kerjanya. Hingga pada suatu saat istri tanpa sengaja sadar telah kehilangan sebuah parfum yg sangat disukainya. Kecurigaan langsung mengarah kepada sinta. Saat kami geledah kamarnya parfum itu memang tidak kami temukan tapi malah kami menemukan pakaian istri, kacamata hitam istri, bahkan korek gas saya ada di persembunyiannya. Tanpa tedeng aling-aling kami lalu mengusir sinta dan tanpa diduga saat penggeledahan pada saat dia pergi parfum istri kami temukan di dalam kotak HPnya si sinta ini. Dari informasi tetangga dan satpam perumahan kami ternyata selama 3 bulan sinta bekerja dengan kami dia sering mengundang teman lelakinya untuk datang ke rumah kami pada saat kami sedang tidak ada di rumah. Entah berapa barang mungkin yang sudah dia ambil kami sudah iklaskan.

Kembali kepada masalah utama, akhirnya kami kembali tinggal bertiga saja di rumah. Saat itulah saya memutuskan untuk menitipkan Nia di TPA. Pada saat awal kami memang sempat ragu juga, tapi karena keadaan akhirnya saya putuskan untuk menitipkan Nia di TPA saja. Ada satu perbedaan yang sangat ketara sekali yang terlihat mencolok dari Nia. Pada saat belum dititip di TPA Nia orangnya sangat penakut sekali terhadap orang lain. Kalau udah ada orang lain pasti dia akan segera mencari saya dan memegang erat kaki saya. Namun kini Nia sudah berubah. Dia sudah mulai bisa bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Sudah mulai ceriwis banyak omong. Pokoknya di bidang sosial dia sangat berubah sekali.

Dari sini saya ingin menarik sebuah kesimpulan. Tidak selamanya menitip anak di TPA itu jelek. Malah dengan begitu sikap dan perilaku si anak bisa maju karena dia bisa bersosialisasi dengan para pengasuh dan teman-temannya. Tapi yang perlu mungkin diperhatikan adalah pada saat memilih TPA yang cocok bagi anak kita. Pilihlah TPA yg bersih, higienis, luas dan banyak pengasuhnya. Walaupun biaya bulanannya agak mahal tapi kita lebih sreg menitipkan anak kita di TPA tersebut.

Mudah-mudahan bisa menjadi pemikiran bagi para pasangan muda yang memiliki masalah yang sama dengan yang saya alami saat ini. Salam……. 🙂