Sel darah putihKemarin saya baru saja bertemu dengan teman kuliah saya. Kebetulan karena dia sedang berlibur di kota saya maka saya dan istri bertemu untuk bersapa kabar. Perbincangan kami memang cuma sebentar karena saya juga tidak mau menghabiskan waktunya yang sangat berharga untuk menikmati liburan di pulau tercinta ini. Mulai dari basa basi yang ndak jelas, ketawa ketiwi sampai akhirnya menyinggung masalah pernikahannya.

Teman saya ini sudah hampir menikah selama 6 tahun dan sampai detik ini mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Saya yang jarak nikahnya tidak terlalu jauh dengan dia saja sudah memiliki dua orang anak yang sudah balita. Beberapa kali dia sempat telat namun akhirnya tidak jadi. Dengan usia pernikahan yang terbilang sudah cukup lama tanpa kehadiran seorang anak mungkin merupakan cobaan yang sangat besar sekali di dalam bahtera kehidupan berumah tangga maupun di lingkungan keluarga besar. Saya yang semenjak menikah 3 bulan saja istri belum juga hamil-hamil sudah bingung setengah mati apalagi bagi pasangan muda yang sudah bertahun-tahun belum juga memiliki keturunan. Jadi saya sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh teman saya ini. Tapi kalau dilihat dari luar sih dia keadaannya biasa-biasa saja tanpa ada tersirat masalah apapun yang berkaitan dengan kehadiran seorang anak.

Sebelumnya saya sudah pernah menyarankan kepada dia untuk mencoba baby test seperti tulisan saya di post yg lain silahkan dibaca. Saya berani menyarankan penggunaan baby test karena secara medis dia dan pasangannya sehat tanpa ada masalah apapun yang berkaitan dengan organ reproduksi. Tapi karena sering ditanya dan dia keseringan menjawab belum mencoba ya akhirnya saya tidak pernah menanyakannya lagi. Ntar saya malah dibilang kepo lagi alias pingin tahu aja wkwkwkwk……..

Selanjutnya dia menjelaskan beberapa fakta mengenai pernikahannya.

  1. Dia sehat secara kedokteran. Dokter menyatakan tidak ada masalah di organ refroduksi kedua pasangan ini
  2. Dia sempat beberapa kali telat tapi tidak pernah bisa jadi.

Karena itu akhirnya dokter kandungannya menyarankan untuk cek lab. Dari hasil cek lab tersebutlah akhirnya ketahuan ternyata dalam tubuh istrinya terdapat jumlah sel darah putih yang sangat banyak. Jumlah sel darah putih yang melampaui batas ini menyebabkan segala macam benda asing yang masuk ke dalam tubuh istrinya seperti virus bahkan sperma/bakal janin akan segera dielimitasi atau dibunuh oleh sel darah putih ini.

Saat ini dia sedang menjalani terapi injeksi untuk mengontrol jumlah sel darah putih yang ada dalam tubuhnya. Dan semoga mereka bisa segera memiliki keturunan. Bagi anda yang mengalami masalah serupa mungkin ada baiknya untuk anda agar melakukan cek lab juga atau tanyakan pada dokter kandungan anda. Semoga informasi ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Cheerss…………………

Iklan

Punya anak kecil???
Tapi anda dan pasangan keduanya sibuk bekerja mencari nafkah. Hidup mandiri sudah pisah dengan orang tua. Trus, siapa yang menjaga si Kecil??????

Mungkin anda senasib dengan saya. Ditengah gencarnya arus globalisasi ini kita dituntut untuk bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil kita. Kala dulu baru menikah kita cuma hidup berdua sih belum ada masalah. Nah pada saat munculnya malaikat kecil kita ke dunia baru kitamulai berpikir keras mengenai menghadapi masalah kehidupan ini.

Sekedar berbagi pengalaman, saya dan istri memutuskan hidup pisah dengan kedua orang tua saya dan mengontrak sebuah rumah pada saat si kecil baru menginjak usia 6 bulan. Pada saat kami pindah untung ada seorang PRT yg sangat baik bersama kami yang saya dapatkan dari mertua saya. Yah karena tu PRT (sebut aja : bibi) sudah lumayan lama diajak sama mertua saya ya akhirnya saya percayakan saja urusan rumah tangga kepada bibi termasuk mengasuh Nia anak perempuan kami yang saat itu masih berusia 6 bulan. Sungguh saya akui dengan adanya bibi masalah pekerjaan dan rumah tangga saya sangat teramat terbantu sekali.

Nah masalah timbul pada saat si bibi ini memutuskan untuk pulang ke kampungnya karena menderita sakit yg tak kunjung sembuh. Di kota saya ini mencari seorang PRT ibaratnya sama susahnya dengan mencari seorang Manajer di perusahaan. Susahnya minta ampun. Kata pemerintah pengangguran di Indonesia ini angkanya cukup tinggi, tapi ya kok mencari seorang PRT aja susahnya minta ampun. Setelah nitip sana nitip sini kepada teman, sahabat dan saudara untuk mencarikan seorang PRT tak terasa sudah hampir 1 bulan kami hidup tanpa bantuan seorang PRT. Rumah sudah seperti kapal pecah. Kerjaan istri sudah amburadul karena harus mengurus si kecil di rumah.

Di saat seperti itu kami lalu memutuskan untuk mencari PRT di sebuah yayasan. Yang kami cari adalah semi babysister, artinya ngasuh anak dia mau tapi mengerjakan urusan rumah tangga juga ia mau. Setelah memilih milih akhirnya kami mendapatkan seorang PRT yang kami rasa cocok dengan kebutuhan kami. Dalam perjalanannya PRT ini (sebut saja: sinta) bekerja sangat rajin dan anak kami pun mau dekat dengan sinta ini. Saya pun menjadi lega karena satu masalah sudah bisa teratasi. Sinta sudah kami perlakukan layaknya saudara sendiri. Kami servis betul dia supaya dia mau betah bekerja dengan kami.

Tak terasa sudah hampir 3 bulan kami mengajak sinta bekerja di rumah kami. Secara keseluruhan kami sangat puas dengan hasil kerjanya. Hingga pada suatu saat istri tanpa sengaja sadar telah kehilangan sebuah parfum yg sangat disukainya. Kecurigaan langsung mengarah kepada sinta. Saat kami geledah kamarnya parfum itu memang tidak kami temukan tapi malah kami menemukan pakaian istri, kacamata hitam istri, bahkan korek gas saya ada di persembunyiannya. Tanpa tedeng aling-aling kami lalu mengusir sinta dan tanpa diduga saat penggeledahan pada saat dia pergi parfum istri kami temukan di dalam kotak HPnya si sinta ini. Dari informasi tetangga dan satpam perumahan kami ternyata selama 3 bulan sinta bekerja dengan kami dia sering mengundang teman lelakinya untuk datang ke rumah kami pada saat kami sedang tidak ada di rumah. Entah berapa barang mungkin yang sudah dia ambil kami sudah iklaskan.

Kembali kepada masalah utama, akhirnya kami kembali tinggal bertiga saja di rumah. Saat itulah saya memutuskan untuk menitipkan Nia di TPA. Pada saat awal kami memang sempat ragu juga, tapi karena keadaan akhirnya saya putuskan untuk menitipkan Nia di TPA saja. Ada satu perbedaan yang sangat ketara sekali yang terlihat mencolok dari Nia. Pada saat belum dititip di TPA Nia orangnya sangat penakut sekali terhadap orang lain. Kalau udah ada orang lain pasti dia akan segera mencari saya dan memegang erat kaki saya. Namun kini Nia sudah berubah. Dia sudah mulai bisa bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Sudah mulai ceriwis banyak omong. Pokoknya di bidang sosial dia sangat berubah sekali.

Dari sini saya ingin menarik sebuah kesimpulan. Tidak selamanya menitip anak di TPA itu jelek. Malah dengan begitu sikap dan perilaku si anak bisa maju karena dia bisa bersosialisasi dengan para pengasuh dan teman-temannya. Tapi yang perlu mungkin diperhatikan adalah pada saat memilih TPA yang cocok bagi anak kita. Pilihlah TPA yg bersih, higienis, luas dan banyak pengasuhnya. Walaupun biaya bulanannya agak mahal tapi kita lebih sreg menitipkan anak kita di TPA tersebut.

Mudah-mudahan bisa menjadi pemikiran bagi para pasangan muda yang memiliki masalah yang sama dengan yang saya alami saat ini. Salam……. 🙂