Setiap orang tua pasti merasa bingung jika anaknya menderita demam. Apalagi disaat ini penyakit demam berdarah siap mengintai siapa saja tanpa memandang umur. Namun pada umumnya para orangtua yang baru memiliki balita alias ‘orang tua baru’ sangat teramat khawatir dengan kesehatan anaknya. Baru demam sedikit sudah langsung ke dokter anak atau langsung cek darah. Untuk jaga-jaga sih boleh saja ya, tapi kalo terlalu phobia gitu ya susah juga jadinya.

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya pada saat anak saya suatu saat yang lalu menderita demam. Sebagai orang tua baru kami juga terlalu khawatir terhadap kesehatan anak kami. Suatu ketika Nia anak kami mengalami demam yang tidak menentu. Siang hari demamnya turun karena diberi obat penurun panas namun malam hari kembali naik. Selama hampir 3 hari panasnya tetap saja naik turun terus walaupun kami sudah rutin memberikannya obat penurun panas sesuai dosis yang dianjurkan. Sampai akhirnya menginjak pada malam ke 4 tepat jam 2 malam anak kami bangun dari tidurnya. Pada saat saya cek suhu tubuhnya ternyata thermometer menunjukkan angka 39 derajat C. Sontak kami pun panik dan langsung membawa Nia ke UGD. Di UGD dokter jaga juga tidak berbuat terlalu banyak. Nia lalu diberi obat penurun panas yang dimasukkan lewat anusnya. Setelah itu berangsung-angsur panasnya mau turun kembali. Keringat sudah mulai keluar dari tubuhnya walaupun badannya masih terasa hangat.

Keesokan harinya badannya sudah tidak sepanas kemarin. Tapi itulah anehnya sakit pada anak kami. Walaupun menderita demam Nia tetap dapat aktif beraktifitas bermain seperti anak normal. Karena khawatir kami lalu membawa Nia ke laboratorium untuk melakukan tes darah, jaga-jaga jika nanti dia mengalami penyakit demam berdarah. Kami sangat bersyukur karena hasil lab ternyata menyatakan negatif, anak kami tidak terkena penyakit demam berdarah.

Malamnya Nia demam kembali dan akhirnya kami pun ke rumah sakit untuk merawat inap anak kami. Selama 3 hari di rumah sakit dokter anak yang menangani Nia sudah memberikan Nia obat penurun panas tapi demamnya tetap juga naik turun. Sampai pada hari ke 4 dokter anak tersebut merujuk anak saya pada dokter spesialis THT. Dokter THT tersebut kemudian menyatakan bahwa di dalam telinga anak saya terdapat bisul dan harus dipecahkan dengan cara ditusuk. Kami menyetujuinya dan syukur semenjak ditusuk tersebut demamnya Nia berangsur-angsur turun. Esok paginya suhu badannya sudah normal dan kami diperbolehkan membawanya pulang.

Pulang dari rumah sakit saya sudah dapat bernapas lega. Nia sudah dapat kembali bermain dengan riangnya. Namun apa yang terjadi? Kegembiraan tersebut hanya dapat bertahan selama sekitar 1 minggu. Nia kembali mengalami demam tinggi. Saat itu saya stress. Saya lalu termenung di depan anak saya berpikir apa yang sedang terjadi…. Di tengah lamunan saya, tiba-tiba saya teringat kembali kejadian di rumah sakit. Jangan-jangan terdapat sesuatu di telinga anak saya. Tanpa basa-basi saya dan istri lalu membawa Nia ke dokter spesialis THT yang menurut teman saya bagus di dalam menangani pasiennya. Sampai ditempat praktek dokter tersebut telinga Nia diperiksa dan ternyata terdapat 2 buah bisul di telinga kanan dan kirinya yang sudah memasuki fase radang… Saya sempat berpikir pada saat itu, wah jangan-jangan dokter THT yang menusuk anak saya di rumah sakit tidak bekerja secara sempurna. Selepas ditusuk kembali oleh dokter THT tersebut nanah dan darah muncul dari kedua telinga anak saya. Kami pun diwanti untuk tidak terlalu khawatir karena itu memang kejadian yang wajar. Nanti juga berhenti kata dokter tersebut. Syukur kehadapan Tuhan sepulang dari dokter THT tersebut anak saya sembuh dari demamnya dan tidak kumat lagi.

Ada satu perkataan dari dokter THT tersebut yang selalu terngiang di kepala saya sampai saat ini. “Kalau dari awal di bawa ke tempat praktek saya kan anak saudara ndak bakalan sampai harus opname”, kata dokter itu sambil bercanda. Yah begitulah, opname 3 hari ngabisin 3-4 juta rupiah seperti percuma saja ketika mendengar perkataan dokter tersebut. Ke dokter THT saya ndak sampai menghabiskan 200 ribu rupiah termasuk obat.

Untuk itu ada beberapa acuan yang sampai saat ini saya pakai acuan ketika anak saya mengalami penyakit panas:

  1. Berikan terlebih dahulu obat penurun panas sesuai dosis dan secara teratur.
  2. Jika setelah 3 hari tidak terjadi perubahan dianjurkan mengecek darah anak, jaga-jaga jika nanti sampai terkena penyakit demam berdarah. Semakin dini kita waspada semakin cepat penyakit ini bisa disembukan (jika positif terkena).
  3. Jika hasil lab menyatakan negatif, cobalah membawa anak anda ke dokter spesialis THT, siapa tahu terdapat bisul di telinganya.
  4. Jika tidak, mending bawa ke rumah sakit untuk diobservasi.

Saya bukanlah dokter dan saya tidak memaksa atau menganjurkan anda untuk melakukan seperti apa yang saya lakukan. Tetapi saya hanya sedikit sharing pengalaman saya syukur-syukur itu bisa membantu anda. Kembali lagi kepada anda yang memutuskan dan berperan sebagai orang tua 🙂

Salam……………………………

Iklan